Backend

Mengapa Monolithic Architecture Masih Relevan di Era Microservices?

  • Penulis : Fitri Hy
  • Tanggal : 2025-01-29

Dalam dunia pengembangan perangkat lunak, terdapat dua model arsitektur utama yang sering dibahas: Monolithic Architecture dan Microservices. Monolithic Architecture adalah pendekatan tradisional yang menyatukan seluruh komponen aplikasi dalam satu sistem tunggal. Meskipun terdengar sederhana, pendekatan ini memiliki berbagai kelebihan dan tantangan yang perlu dipahami oleh para pengembang.

Apa itu Monolithic Architecture?

Monolithic Architecture adalah struktur aplikasi di mana semua bagian dari aplikasi, seperti logika bisnis, antarmuka pengguna, dan penyimpanan data, terintegrasi dalam satu proyek besar. Dalam model ini, setiap bagian aplikasi saling berhubungan secara langsung.

Salah satu keuntungan utama dari arsitektur monolitik adalah kesederhanaannya. Dalam banyak kasus, pengembangan aplikasi monolitik lebih mudah dan lebih cepat, terutama untuk aplikasi dengan skala kecil hingga menengah. Dengan struktur yang lebih sederhana, tim pengembangan bisa bekerja lebih efisien tanpa harus mengelola berbagai layanan terpisah.

Keunggulan Monolithic Architecture

  1. Kemudahan Pengembangan dan Pengujian Pengembangan aplikasi monolitik lebih mudah karena semua bagian aplikasi berada dalam satu kesatuan. Tidak ada perlu untuk berurusan dengan API terpisah atau sistem terdistribusi yang memerlukan koordinasi lebih rumit. Selain itu, pengujian dapat dilakukan dengan lebih sederhana karena tidak ada ketergantungan pada layanan eksternal.

  2. Kinerja yang Lebih Baik Aplikasi monolitik cenderung memiliki kinerja yang lebih baik karena semua proses dijalankan dalam satu lingkungan. Tidak ada latensi yang disebabkan oleh komunikasi antar layanan seperti dalam arsitektur berbasis microservices.

  3. Pengelolaan yang Sederhana Karena aplikasi berada dalam satu kesatuan, pemeliharaan dan pembaruan sistem dapat dilakukan secara lebih mudah tanpa perlu mengelola berbagai service yang berbeda.

Tantangan dalam Monolithic Architecture

  1. Skalabilitas Terbatas Salah satu masalah utama dari Monolithic Architecture adalah skalabilitas. Ketika aplikasi berkembang, sulit untuk memisahkan bagian-bagian tertentu untuk skala horizontal. Oleh karena itu, aplikasi besar cenderung mengalami masalah kinerja saat jumlah pengguna atau data meningkat.

  2. Kesulitan dalam Pemeliharaan Seiring dengan berkembangnya aplikasi, kode menjadi lebih kompleks. Ini membuat pemeliharaan lebih sulit dan bisa menyebabkan masalah ketika tim pengembang ingin melakukan perubahan tanpa mempengaruhi bagian lainnya.

  3. Kesulitan dalam Penggunaan Teknologi Baru Mengubah teknologi di dalam aplikasi monolitik bisa menjadi sangat sulit. Setiap perubahan kecil bisa berdampak pada seluruh aplikasi, sehingga memerlukan proses migrasi yang rumit.

Kesimpulan

Monolithic Architecture merupakan pilihan yang baik untuk aplikasi yang relatif kecil atau tim pengembang yang tidak perlu berurusan dengan kompleksitas sistem terdistribusi. Meskipun ada beberapa tantangan, dengan pengelolaan yang tepat, arsitektur monolitik tetap relevan dan dapat mendukung pengembangan perangkat lunak yang efektif.

Jika aplikasi Anda berkembang dan membutuhkan skalabilitas lebih besar, Anda dapat mempertimbangkan untuk beralih ke microservices. Namun, bagi aplikasi yang lebih sederhana dan tim pengembangan yang kecil, Monolithic Architecture tetap menjadi pilihan yang solid.

Komentar:

Belum ada komentar, jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar: